Saturday, July 30, 2016

Jabatan Sedekah atau Hibah?

lanjutan....
       Jangan sampai jabatan sedekah yang anda terima. Sedekah itu diberikan kepada fakir miskin dhuhafa. Nah kalau jabatan sedekah berarti anda diberi tapi sebenarnya anda bisa jadi tidak mampu. Tetapi mengakui ketidakmampuan butuh energi postif yang luar biasa besar. Ini hanya bagi yang merasa tidak mampu dan biar tidak dianggap jabatan sedekah  sebaiknya meminta saja sama yang memberi untuk diberikan atau dibagikan. Mengikhlaskan sesuatu yang besar pasti anda akan mendapatkan kenikmatan, keberkahan, dan kedamaian. Penasaran apa rasanya coba saja? langkah penasaran itu dimulai dari (1) meminta direshuffle dari yang memberi jabatan, tetapi tidak perlu membuat penasaran publik dengan "kuis"ini meminta di reshuffle atau memang pemberi jabatan mampu mereshuffle. Agar keberkahan yang anda rasakan itupun mampu mendamaikan seluruh rakyat tersenyum.  (2) Mengikhlaskan jabatan tidak perlu memiliki pemikiran bahwa raport anda merah di kabinet. (3) Reshuffle akan terus ada, jadi tidak perlu malu ataupun marah justru berbahagialah karena anda akan merasakan kebahagiaan tidak lagi di bully seantero negeri. (4) Pengabdian pada negeri ini tidak hanya terbatas pada jabatan menteri, karena dimanapun, apapun, siapapun kapanpun anak bangsa negeri ini tetap bisa mengabdi  sesuai dengan kapasitas masing-masing.
        Reshuffle kita ibaratkan berbagi, karena mengikhlaskan sesuatu yang besar untuk diberikan kepada yang lain.  Ketika sudah mampu mengikhlaskan maka karya besar anda di negeri ini tidak akan pernah pudar justru ditunggu jutaan anak bangsa karya dan kiprah anda selanjutnya. Ketika di reshuffle atau tetap bertahan bukan karena jabatan sedekah. Anda akan mampu berkiprah, tetapi menjadi pernyataan yang berbeda karena tidak merasa itu sedekah tetapi hibah, dan akan timbul persoalan baru kalau ternyata itu hibah/ pemberian hadiah. Kita yakini dan kita doakan saja semoga tidak ada jabatan menteri dinegeri ini yang dari sedekah dan ataupun hibah. tetapi mampu berjiwa sedekahlah ketika di reshuffle dan belum tentu rapor anda merah, bisa jadi bintang atau anda akan yakini dalam hati "I'll be back" itu adalah pilihan. Satu yang pasti kita tunggu yakni reshuffle jilid III.

Reshuffle Menteri kita ibaratkan berbagi?

Berbagi itu mudah, itu bisa iya ataupun justru sangat sulit. ya bisa mudah kalau kita berpikir positif akan berbagi itu. Ilustrasi sederhana saja hanya ada 1 permen dan 2 snack, ketika kita dihadapkan pada 1 permen yang harus dibagi pada 3 anak tetangga ketika bermain, kita punya pilihan permen itu kita bagi 3 atau justru membujuk agar semuanya tidak nanggis siapakah yang mau snack dan mau merelakan permen. padahal sebenarnya anak-anak itu semuanya menghendaki permen.  Kedua cara itu ada konsekuensi lalu....bagaimana jika berbagi tugas atau berbagi peran dalam organisasi ataupun pekerjaan? sanggupkah?
Berbagi tugas mempunyai makna positif tetapi itu tergantung bagaimana memaknainya dan dari sudut apa terlebih dahulu. Makna positifnya akan menjadi ringan beban tugas tersebut, tetapi justru menjadi negatif karena yang dibagi tugasnya merasa dikurangi bebannya dan yang ditambahi menjadi beban lebih.  Kenapa bisa seperti itu, karena sudut pandangnya dikurangi dan ditambahi. terkadang sesuatu yang dikurangi dan ditambahi memang memiliki efek makna negatif. Tetapi kita bisa memikirkan dan memandang seperti sudut pandang berbagi nya orang sedekah. misal bersedekah 1 juta, memang barang atau sesuatu itu benar habis atau berkurang 1 juta tetapi keberkahan yang kita cari kalau kita ikhlas. Lantas bagaimana kalau sesuatu itu jabatan menteri? Anda masih sanggup dan ikhlas kalau jabatan menteri itu dibagi atau diberikan ke orang lain? jangan sampai istilahnya menteri pupuk bawang atau menteri yang tidak diperhitungkan atau timun wungkuk jaga imbuh bukan karena untouchable. Menteri yang digeser jabatannya atau yang dicabut jabatannya harus benar benar ikhlas dan merelakan agar keberkahan selalu bersama anda (Karena konsep sedekah). next.......jangan sampai jabatan sedekah yang anda terima?

Wednesday, February 17, 2016

RUANG LINGKUP KEWIRAUSAHAAN


Proses kreatif dan inovatif hanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kepribadian kreatif dan inovatif, yaitu orang-orang yang memiliki jiwa, sikap dan perilaku kewirausahaan, dengan ciri-ciri :
1. Penuh percaya diri, indikatornya adalah penuh keyakinan, optimis, berkomitmen, disiplin, bertanggung jawab.
2.     Memiliki inisiatif, indikatornya adalah penuh energi, cekatan dalam bertindak, dan aktif.
3.     Memiliki motif berprestasi, indikatornya terdiri atas orientasi pada hasil dan wawasan ke depan.
4.     Memiliki jiwa kepemimpinan, indikatornya adalah berani tampil beda, dapat dipercaya, dan tangguh dalam bertindak.
5.     Berani mengambil risiko dengan penuh perhitungan.
   
Ciri-ciri dan watak kewirausahaan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1.
Karakteristik dan watak Kewirausahaan


Sedangkan Scarborough dan Zimmerer mengemukakan 8 (delapan) karakteristik kewirausahaan sebagai berikut :
1.        Desire for responsibility, yaitu memiliki rasa tanggung jawab atas usaha-usaha yang dilakukannya.
2.     Preference for moderate risk, yaitu lebih memilih risiko yang moderat, artinya selalu menghindari risiko, baik yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi.
3.  Confidence in their ability to success, yaitu memiliki kepercayaan diri untuk memperoleh kesuksesan.
4.         Desire for immediate feedback, yaitu selalu menghendaki umpan balik dengan segera.
5.    High level of energy, yaitu memiliki semangat dan kerja keras untuk mewujudkan keinginannya demi masa depan yang lebih baik.
6.        Future orientation, yaitu berorientasi serta memiliki perspektif dan wawasan jauh ke depan.
7.   Skill at organizing, yaitu memiliki keterampilan dalam mengorganisasikan sumber daya untuk    menciptakan nilai tambah.
8.     Value of achievement over money, yaitu lebih menghargai prestasi daripada hang.

DAFTAR PUSTAKA

Nugroho, . 2012. Memahami Latar Belakang Pemikiran Entrepreneurship Ciputra. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia.

Saiman, Leonardus. 2009. Kewirausahaan. Teori, Praktik dan Kasus-kasus. Jakarta : Penerbit Salemba Empat.
Suryana. 2011. Kewirausahaan: Kiat dan Proses Menuju Sukses. Jakarta : Penerbit Salemba Empat.



Sumber –Sumber Potensial Peluang


   Suatu ide-ide potensial menjadi peluang bisnis yang riil, maka wirausaha harus bersedia melakukan evaluasi terhadap peluang secara terus menerus. Proses penjaringan ide atau disebut proses screening merupakan suatu cara terbaik untuk menuangkan ide potensial menjadi produk & jasa riil. Sumber potensial tersebut adalah Menciptakan Produk Baru & Berbeda

Q&A: Wawancara Kerja

Linknya:  https://www.canva.com/design/DAEPOVQunkE/k4pqjYVS5HiLbzxXPB4XLA/view?utm_content=DAEPOVQunkE&utm_campaign=designshare&utm_...